Langsung ke konten utama

Mbok Dapur

Teng teng teng
Suara tabung LPG yang terpukul mulai menggema
Pertanda waktu sarapan telah tiba
Ah asyiknya, tanpa susah payah pun bisa makan sepuasnya
Lauk seadanya, dengan suasana bahagia

Cepaaattt!
Teriak mbok dapur di ujung sana
Tampaknya sudah lelah berjuang sejak pagi buta
Barangkali, punggungnya mulai remai ditambah kondisi yang mulai renta
Mbok dapur memang kerjanya lasah
Berlelah untuk menghasilkan masakan yang dapat menggoyang lidah

Namun, pak tua bilang lebih susah dia
Bagiku sama saja
Bagimu bagaimana?
Bekerja memang tak boleh biasa
Kerahkan tenaga ekstra
Agar hasilnya paripurna

Hari ini mbok dapur marah, anak-anaknya makan tidak pada waktunya
Ditunggu sambil kebut-kebut menggunakan patera
Kusak-kusuk kami dibuatnya, tak berani tampakkan muka

Namun apa daya,
Krucuk-krucuk perut terus memberi tanda
Jika tak segera, suaranya semakin bahana
Jadilah kita melipat muka
Segera mengambil wadah
Lalu berjanji untuk tidak mengulanginya

Lingkungan pesantren, 29 September 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memaknai Produktivitas

Hal apa yang pertama kali menari-nari dalam pikiran ketika mendengar kata produktivitas? Boleh dong sedikit cerita mengenai kegiatan-kegiatan produktif yang biasa kamu lakukan dan yang paling kamu sukai :)           Sebelumnya, saya sering salah mengartikan kata produktivitas menjadi suatu pekerjaan yang tidak ada habisnya, dan tentu saja suatu aktivitas yang bisa menghasilkan uang.           Berdasar asumsi pribadi itu, ternyata sukses menjadikan diri saya terkungkung dalam lingkar anggapan yang muluk-muluk mengenai produktivitas.           Hal apa yang bisa dilakukan agar kita bisa merasa produktif? Apakah kegiatan yang saya lakukan selama ini sudah termasuk sesuatu yang produktif? Dan masih banyak pertanyaan lain yang belakangan ini baru terpecahkan secara sederhana oleh mbak @ayumdaigo94.           Sejatinya, produktivitas adalah tentang bagaimana kita bisa memanfaatkan diri kita ...

Sorot Temaram

Sedang berjalan perlahan seorang diri Menafsirkan sepi dengan menyendiri Sejenak menghibur diri Berkelana sesuka hati Hingga lupa gejolak nurani Singgah, berteduh, melanjutkan perjalanan Tak akan ada yang bisa menahan Bertumpu pada harapan Beralas perjuangan Bergandeng keluasan perasaan Kini, Sorot temaram mulai menyingkap kegelisahan Menunjukkan setitik jalan Memecah ragam rupa rintangan Memercik perlahan kekuatan Bangkitkan dan gelorakan kemenangan Pongah karena berhasil melawan keakuan Gegas memintas dengan rangkulan kawan Pun tak luput merangkul lawan Sorot temaram dari kejauhan mencoba menyusup pelan Semakin tak menampakkan kesamaran Semakin terang dan tenang Kembali berjalan perlahan Dan kami menemukan Batu, 23 September 2019

Surat untuk Nulisyuk

Sengaja menuliskan kisah perjalanannya di hari terakhir, karena pengen baca dulu kisah-kisah menarik dan menginspirasi dari sahabat-sahabat online @nulisyuk 😊 . Sebagai anggota yang baru bergabung, baru menikmati perjalanan, dan baru di(teman)i oleh nulisyuk, saya mungkin minim pengalaman jika dibandingkan dengan yang lain. Tapi jangan tanya bagaimana kesannya. Jika jatuh cinta saja tidak peduli seberapa lama kita mengenalnya, maka hari ini juga saya jatuh cinta. Cinta yang berbalut lembut dengan kenyamanan hehe. . Mengawali perjalanan dengan mengikuti kelas online nulisyuk batch 35 dengan tema "Muslimah Produktif". Awalnya hanya bisa membayangkan, proses pembelajaran onlinenya nanti seperti apa, bisa gak ya mengikuti challenge-challengenya, mampu gak ya sampai tembus nulis antologi bersama peserta yang lain, dll. . Satu hari terlewati, satu materi tersaji, dan akhirnya beberapa minggu berakhir tanpa disadari. Saya terharu sekali dengan tagline @nulisyuk yaitu "Te...