Langsung ke konten utama

Merakit Mimpi

Sore tadi di kota dingin bersama suara bising Tonggeret, ada 23 jiwa yang mencoba berteriak dengan cara paling senyap, mereka tuliskan kembali target lengkap dengan komitmennya. Harapan kalian adalah apa yang akan saya (bantu) realisasikan, kemudian kami menutup dengan senyuman.

Mengevaluasi proses menuju pencapaian, merakit kembali cita dengan penuh cinta agar sampai pada tujuan, melingkarkan kembali kelingking menyimpulkan perjanjian. Bersama mereka yang selalu memenuhi memori hp dan hati saya.

Dengan mereka, kemarahan adalah satu hal yang membuat berantakan hal-hal yang lainnya. Perlakuan mereka dengan tidak sengaja memberikan pesan, kurang sempurna ilmu yang selama ini digali, tumpukan agenda yang setiap minggu diikuti, bahkan bukti apapun yang menguatkan diri, jika tidak dengan "sabar dan ikhlas" mendampingi, semua tak akan mudah dijalani.

Lewat mereka saya bisa belajar setiap hari. menjumpai hal buruk sebagai pengingat agar tidak dilakukan lagi kemudian hari, dan memungut hal baik yang berserakan untuk ditiru dan disalurkan lagi. Cara yang sangat tak terduga, begitu lembut Allah memeluk doa-doa yang sempat terpanjatkan.

Semoga kita bisa memetik hasil dari "relasi saling" yang kita ciptakan, entah esok, lusa, atau kapanpun. Karena selamanya kita akan terus belajar, dan menjadi pembelajar selamanya.

Komentar

  1. Setuju. Sepnajang kehidupan kita memang perlu terus belajar dan terus memperbaiki diri.

    Salam kenal dari Nottingham.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memaknai Produktivitas

Hal apa yang pertama kali menari-nari dalam pikiran ketika mendengar kata produktivitas? Boleh dong sedikit cerita mengenai kegiatan-kegiatan produktif yang biasa kamu lakukan dan yang paling kamu sukai :)           Sebelumnya, saya sering salah mengartikan kata produktivitas menjadi suatu pekerjaan yang tidak ada habisnya, dan tentu saja suatu aktivitas yang bisa menghasilkan uang.           Berdasar asumsi pribadi itu, ternyata sukses menjadikan diri saya terkungkung dalam lingkar anggapan yang muluk-muluk mengenai produktivitas.           Hal apa yang bisa dilakukan agar kita bisa merasa produktif? Apakah kegiatan yang saya lakukan selama ini sudah termasuk sesuatu yang produktif? Dan masih banyak pertanyaan lain yang belakangan ini baru terpecahkan secara sederhana oleh mbak @ayumdaigo94.           Sejatinya, produktivitas adalah tentang bagaimana kita bisa memanfaatkan diri kita ...

Sorot Temaram

Sedang berjalan perlahan seorang diri Menafsirkan sepi dengan menyendiri Sejenak menghibur diri Berkelana sesuka hati Hingga lupa gejolak nurani Singgah, berteduh, melanjutkan perjalanan Tak akan ada yang bisa menahan Bertumpu pada harapan Beralas perjuangan Bergandeng keluasan perasaan Kini, Sorot temaram mulai menyingkap kegelisahan Menunjukkan setitik jalan Memecah ragam rupa rintangan Memercik perlahan kekuatan Bangkitkan dan gelorakan kemenangan Pongah karena berhasil melawan keakuan Gegas memintas dengan rangkulan kawan Pun tak luput merangkul lawan Sorot temaram dari kejauhan mencoba menyusup pelan Semakin tak menampakkan kesamaran Semakin terang dan tenang Kembali berjalan perlahan Dan kami menemukan Batu, 23 September 2019

Kontemplasi: Rezeki

Memasuki  phase  baru artinya sama dengan menghirup udara yang sama dari sudut lain yang berbeda, bisa jadi tingkat kesegarannya tidak sama tapi itulah adaptasi yang sesungguhnya. Debu, polusi, bahkan kabut gelap sekalipun jika kita sudah biasa berteman dengannya maka rasanya akan biasa aja, saya umpamakan seperti itu.           Apa kabar para pekerja? Pekerja apapun! Semoga panjang umur dengan keberkahan, karena tugas kita adalah keluar (zona nyaman), gigih berusaha, dan tetap percaya bahwa semua hasil dari usaha kita akan dibalaskan setimpal, jika bukan sekarang maka bisa jadi besok, dan jika bukan disini bisa jadi disana.           Pernah tiba-tiba terlintas dari pikiran bagaimana Allah begitu keren mengkonsep semua yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari yang berhubungan dengan rezeki? Saya sedikit cerita ya.           Dulu sekali, ketika saya pergi kemanapun dan hendak membeli apapun ter...