Langsung ke konten utama

Sang Wakil (3)

Genap 5 bulan sepasang ini menjalani rutinitasnya sebagai pasangan suami istri, banyak sekali pelajaran yang tak bisa diuraikan, kebahagiaan yang datang menghampiri dan tak jarang duka menyelimuti. Permasalahan silih berganti sebagai proses kenaikan derajat manusia, dan rasanya mungkin ini belum ada apa-apanya, pernikahan mereka masih seumur jagung, perjalanan mereka mengarungi bahtera masih sangatlah panjang.

"Bagaimana Tan, apa kita mencoba cari jalan lain untuk memperbaiki perekonomian rumah tangga kita?" Hakim menyela.

Ibarat bianglala, kondisi rumah tangganya sedang berada di posisi bawah setelah diputar-putar dari atas ke bawah, campur aduk rasanya. Ibu Hakim sedang terbaring lemah tak berdaya, penyakit Artritis telah menemani hari-harinya dan menyebabkan ruang geraknya terbatas. Ibunya hanya mampu terbaring, aktivitas apapun harus dengan bantuan Intan, sang menantu. Hal ini membuat seluruh aktivitas Intan terhenti, Intan memilih penuh waktu mengurus ibunya. Ditambah dengan penyakit Diabetes Mellitus yang mewajibkan intan untuk benar-benar mengatur dan mengawasi pola makan ibu mertuanya.

"Yang benar sedikit kalau mengurus ibu, kalau sudah bosan tinggalkan saja ibu sendiri disini" Ibu mertuanya mulai mengomel sedari tadi.
"Intan nggak bosan bu, Intan ikhlas mengurus ibu" sahutnya dengan gegas.

Intan seorang menantu yang sabar dan taat, namun seringkali kurang di mata ibu mertuanya. Mungkin ibu mertuanya cemburu karena waktu bersama anak semata wayangnya semakin berkurang, Hakim kian disibukkan dengan istrinya meskipun tidak pernah sedikitpun ia melupakan ibunya, tapi proritasnya nampaknya agak tergeser.

Malam memang selalu syahdu bagi pasangan ini, wadah mereka bercerita, menyusun rencana dan mengevaluasi apa saja memang di malam hari, waktu ketika Hakim senggang usai seharian bekerja juga waktu Intan bersantai karena ibu mertua sudah lelap di ranjangnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anak Broken Home Berbagi Cerita Tentang Pernikahan

"Pernikahan adalah hadiah terbaik dari Allah SWT untuk kita, dan kualitas dari pernikahan itu adalah persembahan kita untuk Allah SWT." Sepotong kalimat itu ku dapatkan setelah babat habis baca instagram story Febrianti Almeera, atau akrab dipanggil Teh Pepew. Entah kapan mulanya, akun Teh Pepew seringkali jadi media kontemplasi paling mendalam. Kata-katanya lugas dan jelas, lembut tapi menampar halus. Beliau ditakdirkan sepasang dengan Ulum A. Saif, kerap dipanggil Kang Ulum. Jika dilihat sekilas, cocok sekali beliau berdua. Saling melengkapi, saling mengisi, saling belajar. Definisi jodoh. Pembahasan instagram story Teh Pepew kali ini adalah tentang sahabat dekatnya yang baru saja melepas masa lajang di usia kepala 4. Apakah terlambat? Tentu tidak. Dipertemukan dalam kondisi terbaik yang dimiliki, dan di waktu yang terbaik menurutNya. Pembahasan menikah akhir-akhir ini akrab sekali di telinga. Ini bukan lagi tentang terburu-buru, bukan juga sesuatu yang tabu. Perjalanan mas...

Sang Wakil (4)

Lontaran pertanyaan dari Hakim terjawab sudah dengan pembuktian. Keluarga kecil ini memilih untuk merantau ke Arab Saudi demi menyambung hidup. Pekerjaan Hakim sebelumnya di Mojokerto ternyata tidak dapat menopang ekonomi keluarga. Pengeluaran untuk Sang Ibu tercinta semakin membludak, penyakit komplikasi mulai urun duka di tubuhnya, ditaambah pengeluaran umtuk buah hati tercinta Vika Ranisa yang sebentar lagi memasuki tingkat sekolah menengah. Hakim membuka toko kecil yang menjual oleh-oleh khas Arab, Intan masih sibuk bekerja di rumah. Sesekali ia membantu Hakim ketika toko mulai ramai, karena Hakim tak mengangkat pegawai, untung dari usahanya saja sudah pas-pasan membiayai kehidupan mereka. Kian hari perlakuan ibu mertuanya terhadap Intan semakin menjengkelkan, namun Intan masih tetap sabar. Hingga suatu ketika kegaduhan yang terjadi terdengar di telinga Hakim dan menjadikan permasalahan baru bagi Hakim dan Intan. Hakim agaknya mulai sedikit kesal dengan Intan, orang yang sel...

Humanity Niche

Suatu kebanggaan menjadi content creator yang bernama blogger. Apapun yang kamu tulis pastikan itu memberikan manfaat positif untuk orang lain dan menjadi amal jariyah yang terus mengalir, sekalipun kita mati -Kosngosan- Mengawali dunia blog ketika dinyatakan dapat bergabung di komunitas ODOP, dengan pendek dan sempitnya pengetahuan saya mulai membuat blog dengan bantuan tutorial di google, sampai bisa mengutak-atiknya agar lebih enak dipandang. Meskipun belum maksimal karena masih menggunakan yang "serba gratisan". Sampai titik ini, banyak sekali dunia blogging yang belum saya ketahui. Beberapa hari yang lalu, saya dihadapkan dengan dua pilihan untuk kelas lanjutan bagi yang sudah resmi lulus dari komunitas ODOP. Ada kelas fiksi dan non-fiksi, fiksi mendalami tentang cerpen, puisi dsb dan non-fiksi menggeluti tetek bengek blog hingga membuat antologi. Awalnya saya mantap ingin memilih kelas fiksi, mengingat isi blog saya yang didominasi dengan karya puisi. Selama 8 ...