Langsung ke konten utama

Sang Wakil (5)

Huru-hara rumah tangga Hakim dan Intan berakhir, namun ada hal berat yang harus mereka ikhlaskan, ada rasa yang mereka paksa untuk dipatahkan. Ibu Hakim, dengan banyaknya pertimbangan akhirnya tidak bisa lagi menerima Intan, mereka dengan berat hati harus berpisah.

Namun keduanya masih sama-sama punya cita-cita dan rencana besar, ada Vika yang harus ditopang masa depannya, ada Vika yang harus dijamin sekolah dan pergaulannya, ada Vika yang tak boleh tau hal buruk yang menimpa orang tuanya.

Pagi ini, Vika berangkat ke pesantren untuk memulai kehidupan barunya, ia melancong jauh ke kota seberang, diantar kedua orangtuanya yang seolah tak ada apa-apa.

"Vika baik-baik ya nak" pesan Intan.
"Kalau ada apa-apa hubungi ayah atau ibu yaa" Hakim menimpali.
"Iyaa" Vika mengangguk pelan dan masih sesenggukan.

Setelah melewati beberapa bulan di pesantren, akhirnya tibalah Vika di momen kunjungan. Vika menangi berjam-jam di gerbang namun tak kunjung datang, dan benar kedua orang tua mereka tidak bisa mengunjunginya pada kesempatan kali ini.

Sangat tegar, Vika hanya berpositif thinking bahwa orang tuanya sedang mempunyai kesibukan lain. Begitulah Vika, sosok dewasa yang mewarisi kesabaran ibunya, barangkali Vika adalah kiriman Tuhan untuk mewakili carut marutnya perasaan Intan, agar ada yang menjadi pendingin, pelipur lara, dan jembatan menuju kebahagiaan sesungguhnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anak Broken Home Berbagi Cerita Tentang Pernikahan

"Pernikahan adalah hadiah terbaik dari Allah SWT untuk kita, dan kualitas dari pernikahan itu adalah persembahan kita untuk Allah SWT." Sepotong kalimat itu ku dapatkan setelah babat habis baca instagram story Febrianti Almeera, atau akrab dipanggil Teh Pepew. Entah kapan mulanya, akun Teh Pepew seringkali jadi media kontemplasi paling mendalam. Kata-katanya lugas dan jelas, lembut tapi menampar halus. Beliau ditakdirkan sepasang dengan Ulum A. Saif, kerap dipanggil Kang Ulum. Jika dilihat sekilas, cocok sekali beliau berdua. Saling melengkapi, saling mengisi, saling belajar. Definisi jodoh. Pembahasan instagram story Teh Pepew kali ini adalah tentang sahabat dekatnya yang baru saja melepas masa lajang di usia kepala 4. Apakah terlambat? Tentu tidak. Dipertemukan dalam kondisi terbaik yang dimiliki, dan di waktu yang terbaik menurutNya. Pembahasan menikah akhir-akhir ini akrab sekali di telinga. Ini bukan lagi tentang terburu-buru, bukan juga sesuatu yang tabu. Perjalanan mas...

Sang Wakil (4)

Lontaran pertanyaan dari Hakim terjawab sudah dengan pembuktian. Keluarga kecil ini memilih untuk merantau ke Arab Saudi demi menyambung hidup. Pekerjaan Hakim sebelumnya di Mojokerto ternyata tidak dapat menopang ekonomi keluarga. Pengeluaran untuk Sang Ibu tercinta semakin membludak, penyakit komplikasi mulai urun duka di tubuhnya, ditaambah pengeluaran umtuk buah hati tercinta Vika Ranisa yang sebentar lagi memasuki tingkat sekolah menengah. Hakim membuka toko kecil yang menjual oleh-oleh khas Arab, Intan masih sibuk bekerja di rumah. Sesekali ia membantu Hakim ketika toko mulai ramai, karena Hakim tak mengangkat pegawai, untung dari usahanya saja sudah pas-pasan membiayai kehidupan mereka. Kian hari perlakuan ibu mertuanya terhadap Intan semakin menjengkelkan, namun Intan masih tetap sabar. Hingga suatu ketika kegaduhan yang terjadi terdengar di telinga Hakim dan menjadikan permasalahan baru bagi Hakim dan Intan. Hakim agaknya mulai sedikit kesal dengan Intan, orang yang sel...

Humanity Niche

Suatu kebanggaan menjadi content creator yang bernama blogger. Apapun yang kamu tulis pastikan itu memberikan manfaat positif untuk orang lain dan menjadi amal jariyah yang terus mengalir, sekalipun kita mati -Kosngosan- Mengawali dunia blog ketika dinyatakan dapat bergabung di komunitas ODOP, dengan pendek dan sempitnya pengetahuan saya mulai membuat blog dengan bantuan tutorial di google, sampai bisa mengutak-atiknya agar lebih enak dipandang. Meskipun belum maksimal karena masih menggunakan yang "serba gratisan". Sampai titik ini, banyak sekali dunia blogging yang belum saya ketahui. Beberapa hari yang lalu, saya dihadapkan dengan dua pilihan untuk kelas lanjutan bagi yang sudah resmi lulus dari komunitas ODOP. Ada kelas fiksi dan non-fiksi, fiksi mendalami tentang cerpen, puisi dsb dan non-fiksi menggeluti tetek bengek blog hingga membuat antologi. Awalnya saya mantap ingin memilih kelas fiksi, mengingat isi blog saya yang didominasi dengan karya puisi. Selama 8 ...