Langsung ke konten utama

Kontemplasi: Rezeki

Memasuki phase baru artinya sama dengan menghirup udara yang sama dari sudut lain yang berbeda, bisa jadi tingkat kesegarannya tidak sama tapi itulah adaptasi yang sesungguhnya.
Debu, polusi, bahkan kabut gelap sekalipun jika kita sudah biasa berteman dengannya maka rasanya akan biasa aja, saya umpamakan seperti itu.
          Apa kabar para pekerja? Pekerja apapun! Semoga panjang umur dengan keberkahan, karena tugas kita adalah keluar (zona nyaman), gigih berusaha, dan tetap percaya bahwa semua hasil dari usaha kita akan dibalaskan setimpal, jika bukan sekarang maka bisa jadi besok, dan jika bukan disini bisa jadi disana.
          Pernah tiba-tiba terlintas dari pikiran bagaimana Allah begitu keren mengkonsep semua yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari yang berhubungan dengan rezeki? Saya sedikit cerita ya.
          Dulu sekali, ketika saya pergi kemanapun dan hendak membeli apapun terutama di tempat-tempat rekreasi, saya temukan lapak-lapak lengkap dengan empunya yang sedang duduk santai menunggui dagangannya, kalau kata Ibu saya mereka sedang menjemput rezekinya. Ya, menjemput berarti keluar, berkeringat, berusaha.
          Satu, dua, tiga deretan lapak menawarkan dagangan yang sama jenisnya, sering menemui kan? Seberang jalan penuh dengan penjual buah, di tempat wisata penuh dengan penjual oleh-oleh; mulai dari makanan, pakaian, mainan dll.
          Pernah berpikir gak? Bagaimana kemudian langkah kaki kita mantap pada salah satu penjual dari banyaknya pilihan yang menawarkan produk sama? 
          Mungkin alasannya beragam; karena sudah langganan, karena harganya toleran, bahkan hanya karena sebuah kebetulan.
          Begitu indah jawaban dari "Allah bersama orang-orang yang berusaha dan mengusahakan", tak perlu risaukan apapun, selagi kita sudah berhasil keluar dari belenggu negatif diri sendiri dengan mengerahkan segala daya untuk bertarung, meski dalam prosesnya tersandung, maka kita menjadi ulung.


          Rezeki akan mengalir mengikuti langkah kaki kita melaju untuk berusaha, semoga ya.

Komentar

  1. Karena rizki bukan kayak judul judul sinetron yang bisa ditukar. Hihi

    BalasHapus
  2. Karena rezeki itu pasti, kita tinggal "mengupayakannya" agar 'layak' menerima sesuai 'takarannya'. 🥰

    BalasHapus
  3. Semoga rezeki yang didapat berkah ya mba nelly, allahumma amin

    BalasHapus
  4. Rezeki tergantung bagaimana mengusahakannya ya.

    BalasHapus
  5. Tulisannya keren dn sangat mengena kakak

    BalasHapus
  6. rejeki ada dimana-mana... kadang ga dicari juga datang sendiri...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anak Broken Home Berbagi Cerita Tentang Pernikahan

"Pernikahan adalah hadiah terbaik dari Allah SWT untuk kita, dan kualitas dari pernikahan itu adalah persembahan kita untuk Allah SWT." Sepotong kalimat itu ku dapatkan setelah babat habis baca instagram story Febrianti Almeera, atau akrab dipanggil Teh Pepew. Entah kapan mulanya, akun Teh Pepew seringkali jadi media kontemplasi paling mendalam. Kata-katanya lugas dan jelas, lembut tapi menampar halus. Beliau ditakdirkan sepasang dengan Ulum A. Saif, kerap dipanggil Kang Ulum. Jika dilihat sekilas, cocok sekali beliau berdua. Saling melengkapi, saling mengisi, saling belajar. Definisi jodoh. Pembahasan instagram story Teh Pepew kali ini adalah tentang sahabat dekatnya yang baru saja melepas masa lajang di usia kepala 4. Apakah terlambat? Tentu tidak. Dipertemukan dalam kondisi terbaik yang dimiliki, dan di waktu yang terbaik menurutNya. Pembahasan menikah akhir-akhir ini akrab sekali di telinga. Ini bukan lagi tentang terburu-buru, bukan juga sesuatu yang tabu. Perjalanan mas...

Sang Wakil (4)

Lontaran pertanyaan dari Hakim terjawab sudah dengan pembuktian. Keluarga kecil ini memilih untuk merantau ke Arab Saudi demi menyambung hidup. Pekerjaan Hakim sebelumnya di Mojokerto ternyata tidak dapat menopang ekonomi keluarga. Pengeluaran untuk Sang Ibu tercinta semakin membludak, penyakit komplikasi mulai urun duka di tubuhnya, ditaambah pengeluaran umtuk buah hati tercinta Vika Ranisa yang sebentar lagi memasuki tingkat sekolah menengah. Hakim membuka toko kecil yang menjual oleh-oleh khas Arab, Intan masih sibuk bekerja di rumah. Sesekali ia membantu Hakim ketika toko mulai ramai, karena Hakim tak mengangkat pegawai, untung dari usahanya saja sudah pas-pasan membiayai kehidupan mereka. Kian hari perlakuan ibu mertuanya terhadap Intan semakin menjengkelkan, namun Intan masih tetap sabar. Hingga suatu ketika kegaduhan yang terjadi terdengar di telinga Hakim dan menjadikan permasalahan baru bagi Hakim dan Intan. Hakim agaknya mulai sedikit kesal dengan Intan, orang yang sel...

Humanity Niche

Suatu kebanggaan menjadi content creator yang bernama blogger. Apapun yang kamu tulis pastikan itu memberikan manfaat positif untuk orang lain dan menjadi amal jariyah yang terus mengalir, sekalipun kita mati -Kosngosan- Mengawali dunia blog ketika dinyatakan dapat bergabung di komunitas ODOP, dengan pendek dan sempitnya pengetahuan saya mulai membuat blog dengan bantuan tutorial di google, sampai bisa mengutak-atiknya agar lebih enak dipandang. Meskipun belum maksimal karena masih menggunakan yang "serba gratisan". Sampai titik ini, banyak sekali dunia blogging yang belum saya ketahui. Beberapa hari yang lalu, saya dihadapkan dengan dua pilihan untuk kelas lanjutan bagi yang sudah resmi lulus dari komunitas ODOP. Ada kelas fiksi dan non-fiksi, fiksi mendalami tentang cerpen, puisi dsb dan non-fiksi menggeluti tetek bengek blog hingga membuat antologi. Awalnya saya mantap ingin memilih kelas fiksi, mengingat isi blog saya yang didominasi dengan karya puisi. Selama 8 ...