Langsung ke konten utama

Sang Wakil (4)

Lontaran pertanyaan dari Hakim terjawab sudah dengan pembuktian. Keluarga kecil ini memilih untuk merantau ke Arab Saudi demi menyambung hidup. Pekerjaan Hakim sebelumnya di Mojokerto ternyata tidak dapat menopang ekonomi keluarga. Pengeluaran untuk Sang Ibu tercinta semakin membludak, penyakit komplikasi mulai urun duka di tubuhnya, ditaambah pengeluaran umtuk buah hati tercinta Vika Ranisa yang sebentar lagi memasuki tingkat sekolah menengah.

Hakim membuka toko kecil yang menjual oleh-oleh khas Arab, Intan masih sibuk bekerja di rumah. Sesekali ia membantu Hakim ketika toko mulai ramai, karena Hakim tak mengangkat pegawai, untung dari usahanya saja sudah pas-pasan membiayai kehidupan mereka.

Kian hari perlakuan ibu mertuanya terhadap Intan semakin menjengkelkan, namun Intan masih tetap sabar. Hingga suatu ketika kegaduhan yang terjadi terdengar di telinga Hakim dan menjadikan permasalahan baru bagi Hakim dan Intan. Hakim agaknya mulai sedikit kesal dengan Intan, orang yang selama ini ia cintai dan ia percayai, Hakim menduga Intan mulai tidak peduli lagi dengan ibunya.

"Bagaimana kamu bisa menerimaku jika kamu saja tak sanggup menemani ibuku lagi Tan?" Hakim mulai memuncak emosinya.

Tentu saja Hakim melempar ungkapan tanpa melakukan penyelidikan terlebih dahulu. Hakim sangat sayang pada ibunya, ia juga sayang pada istrinya namun kali ini sudah terbutakan semua kebaikan-kebaikan yang Intan lakukan.

Banyak sekali rencana yang telah mereka semai berdua, tentang kelanjutan Vika yang akan dibawa ke pesantren, persiapan uang untuk sekolahnya, dan tak lupa biaya pengobatan ibunya. Nampaknya semua rencana itu nasibnya sedang diambang kebimbangan, melihat kondisi rumah tangga mereka yang semakin memburuk di setiap harinya.

"Vika mau persiapan mengumpulkan banyak buku untuk persiapan mondok ya bu?" rengek Vika pada Intan.
"Iya nak, memangnya jadi mondoknya?" Intan usil menggoda anaknya sambil memegang hidung Vika.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memaknai Produktivitas

Hal apa yang pertama kali menari-nari dalam pikiran ketika mendengar kata produktivitas? Boleh dong sedikit cerita mengenai kegiatan-kegiatan produktif yang biasa kamu lakukan dan yang paling kamu sukai :)           Sebelumnya, saya sering salah mengartikan kata produktivitas menjadi suatu pekerjaan yang tidak ada habisnya, dan tentu saja suatu aktivitas yang bisa menghasilkan uang.           Berdasar asumsi pribadi itu, ternyata sukses menjadikan diri saya terkungkung dalam lingkar anggapan yang muluk-muluk mengenai produktivitas.           Hal apa yang bisa dilakukan agar kita bisa merasa produktif? Apakah kegiatan yang saya lakukan selama ini sudah termasuk sesuatu yang produktif? Dan masih banyak pertanyaan lain yang belakangan ini baru terpecahkan secara sederhana oleh mbak @ayumdaigo94.           Sejatinya, produktivitas adalah tentang bagaimana kita bisa memanfaatkan diri kita ...

Sorot Temaram

Sedang berjalan perlahan seorang diri Menafsirkan sepi dengan menyendiri Sejenak menghibur diri Berkelana sesuka hati Hingga lupa gejolak nurani Singgah, berteduh, melanjutkan perjalanan Tak akan ada yang bisa menahan Bertumpu pada harapan Beralas perjuangan Bergandeng keluasan perasaan Kini, Sorot temaram mulai menyingkap kegelisahan Menunjukkan setitik jalan Memecah ragam rupa rintangan Memercik perlahan kekuatan Bangkitkan dan gelorakan kemenangan Pongah karena berhasil melawan keakuan Gegas memintas dengan rangkulan kawan Pun tak luput merangkul lawan Sorot temaram dari kejauhan mencoba menyusup pelan Semakin tak menampakkan kesamaran Semakin terang dan tenang Kembali berjalan perlahan Dan kami menemukan Batu, 23 September 2019

Kontemplasi: Rezeki

Memasuki  phase  baru artinya sama dengan menghirup udara yang sama dari sudut lain yang berbeda, bisa jadi tingkat kesegarannya tidak sama tapi itulah adaptasi yang sesungguhnya. Debu, polusi, bahkan kabut gelap sekalipun jika kita sudah biasa berteman dengannya maka rasanya akan biasa aja, saya umpamakan seperti itu.           Apa kabar para pekerja? Pekerja apapun! Semoga panjang umur dengan keberkahan, karena tugas kita adalah keluar (zona nyaman), gigih berusaha, dan tetap percaya bahwa semua hasil dari usaha kita akan dibalaskan setimpal, jika bukan sekarang maka bisa jadi besok, dan jika bukan disini bisa jadi disana.           Pernah tiba-tiba terlintas dari pikiran bagaimana Allah begitu keren mengkonsep semua yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari yang berhubungan dengan rezeki? Saya sedikit cerita ya.           Dulu sekali, ketika saya pergi kemanapun dan hendak membeli apapun ter...