Langsung ke konten utama

Menulis dan Tetek Bengeknya

Menulislah agar kau bisa dikenang sepanjang masa, anonim.
Saya sangat terpacu mendengar kalimat itu, merasa tidak punya apa-apa dan belum bisa berbuat apa-apa. Cita-cita menjadi seorang penulis ternyata sudah terbesit sejak dulu kala. Namun saya sering tidak tahu harus bagaimana menggapai cita-cita menjadi seorang penulis itu.

Sudah sering saya menceritakan komunitas menulis yang saya ikuti, bagaimana saya ungkapkan rasa haru dan terima kasihnya. Karena saya merasa, dari sana saya bisa selangkah lebih maju untuk menggapai cita-cita yang sempat tertanggalkan itu.

Bicara soal menulis, jalan saya memang tidak berjalan mulus, banyak tantangan-tantangan yang harus saya lewati agar saya bisa tetap konsisten menulis. Terutama adalah kemalasan. Kadang saya banyak berbicara dengan diri sendiri, saya masih seorang single dengan kesibukan yang tidak seberapa, mengapa saya tidak bisa se-konsisten teman-teman yang lainnya?

Padahal yang lain, dengan kesibukannya yang bejibun. Tanggung jawab sebagai seorang istri, sebagai seorang ibu, namun tetap bisa membagi waktunya dengan baik. Bisa memprioritaskan menulis, dan itu sangat memalukan bagi diri saya yang masih terus-menerus malas.

Saya rasa terus belajar dan memperbaiki diri memang selalu butuh inspirator, orang-orang di sekeliling kita, bahkan terkadang orang yang tidak kita kenal sebelumnya bisa menjadi pemantik buat kita untuk terus menjadikan diri lebih baik dari pada sebelumnya.

Teman-teman, jangan lelah mengingatkan saya untuk tetap istikamah ya :)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anak Broken Home Berbagi Cerita Tentang Pernikahan

"Pernikahan adalah hadiah terbaik dari Allah SWT untuk kita, dan kualitas dari pernikahan itu adalah persembahan kita untuk Allah SWT." Sepotong kalimat itu ku dapatkan setelah babat habis baca instagram story Febrianti Almeera, atau akrab dipanggil Teh Pepew. Entah kapan mulanya, akun Teh Pepew seringkali jadi media kontemplasi paling mendalam. Kata-katanya lugas dan jelas, lembut tapi menampar halus. Beliau ditakdirkan sepasang dengan Ulum A. Saif, kerap dipanggil Kang Ulum. Jika dilihat sekilas, cocok sekali beliau berdua. Saling melengkapi, saling mengisi, saling belajar. Definisi jodoh. Pembahasan instagram story Teh Pepew kali ini adalah tentang sahabat dekatnya yang baru saja melepas masa lajang di usia kepala 4. Apakah terlambat? Tentu tidak. Dipertemukan dalam kondisi terbaik yang dimiliki, dan di waktu yang terbaik menurutNya. Pembahasan menikah akhir-akhir ini akrab sekali di telinga. Ini bukan lagi tentang terburu-buru, bukan juga sesuatu yang tabu. Perjalanan mas...

Sang Wakil (4)

Lontaran pertanyaan dari Hakim terjawab sudah dengan pembuktian. Keluarga kecil ini memilih untuk merantau ke Arab Saudi demi menyambung hidup. Pekerjaan Hakim sebelumnya di Mojokerto ternyata tidak dapat menopang ekonomi keluarga. Pengeluaran untuk Sang Ibu tercinta semakin membludak, penyakit komplikasi mulai urun duka di tubuhnya, ditaambah pengeluaran umtuk buah hati tercinta Vika Ranisa yang sebentar lagi memasuki tingkat sekolah menengah. Hakim membuka toko kecil yang menjual oleh-oleh khas Arab, Intan masih sibuk bekerja di rumah. Sesekali ia membantu Hakim ketika toko mulai ramai, karena Hakim tak mengangkat pegawai, untung dari usahanya saja sudah pas-pasan membiayai kehidupan mereka. Kian hari perlakuan ibu mertuanya terhadap Intan semakin menjengkelkan, namun Intan masih tetap sabar. Hingga suatu ketika kegaduhan yang terjadi terdengar di telinga Hakim dan menjadikan permasalahan baru bagi Hakim dan Intan. Hakim agaknya mulai sedikit kesal dengan Intan, orang yang sel...

Humanity Niche

Suatu kebanggaan menjadi content creator yang bernama blogger. Apapun yang kamu tulis pastikan itu memberikan manfaat positif untuk orang lain dan menjadi amal jariyah yang terus mengalir, sekalipun kita mati -Kosngosan- Mengawali dunia blog ketika dinyatakan dapat bergabung di komunitas ODOP, dengan pendek dan sempitnya pengetahuan saya mulai membuat blog dengan bantuan tutorial di google, sampai bisa mengutak-atiknya agar lebih enak dipandang. Meskipun belum maksimal karena masih menggunakan yang "serba gratisan". Sampai titik ini, banyak sekali dunia blogging yang belum saya ketahui. Beberapa hari yang lalu, saya dihadapkan dengan dua pilihan untuk kelas lanjutan bagi yang sudah resmi lulus dari komunitas ODOP. Ada kelas fiksi dan non-fiksi, fiksi mendalami tentang cerpen, puisi dsb dan non-fiksi menggeluti tetek bengek blog hingga membuat antologi. Awalnya saya mantap ingin memilih kelas fiksi, mengingat isi blog saya yang didominasi dengan karya puisi. Selama 8 ...